Posted in Uncategorized

Jadi Asisten Fotografer Sehari â¤ï¸

Menyambut anak-anak yang mulai terbiasa nginep di rumah neneknya saat weekend tanpa ditemani orangtuanya, maka hari ini daku mencoba terlibat dalam to do list Pak @ichad_abdassah_studio sebagai asisten awam yang sangat basic kemampuan maupun pengetahuannya di bidang fotografi.

Sekedar fotoin BTS -sekenanya-
Megangin flash -yg bisa dibilang lebih kepada pengganti tripot-
Sedikit banyak ngasih ide gaya
Ngajak ngobrol anak2 saat ortunya on frame berdua saja
Bantu2 jagain perlengkapan klien dan fotografer
Etc

Berangkat jam 6 pagi. Bekasi – Depok dilalui dgn santai aja. Sengaja berangkat pagi karena memang berniat istirahat jikalau leher, bahu, pinggang, dan kaki lelah motoran. Berangkat pagi juga ampuh mengurangi kelelahan akibat cuaca yang semakin panas dan kemacetan yg sering terjadi tanpa sebab. Sedang jam kerja @abdassah_studio dimulai menjelang dzuhur. Sampai di check point pertama, tentunya janjian dulu dengan klien kami buat sekedar bicarakan konsep sambil ngobrol tipis tipis perihal kabar masing-masing. Ditemani sarapan ringan namun sangat cukup mengganjal perut dan otak untuk diajak bekerja sampai menjelang jam makan siang. Alhamdulillah 🙏

MasyaaAlloh, pemotretan keluarga kali ini, hanya keluarga kecil, usia keluarga ini pun baru mau beranjak remaja. Dengan sepasang anak shalih shalihah cerdas yang aktif dan friendly sekali. Buah didikan orangtua yang tentunya dalam satu frekuensi dan basic Qur’ani. Terkaget kaget kami membersamai keluarga ini hampir separuh hari. Pasalnya anak2 kami berusia tak jauh dari anak2 pasangan muda ini. Tentunya sedikit banyak permasalahan harian mirip2 dengan keluarga ini. Banyak pembelajaran baik bab rumah tangga maupun parenting yg kami dapat juga dari mereka. Benar benar quality time dalam pekerjaan yg ‘daging’ sekali.

Satu hal lagi yang membuat pekerjaan kali ini terasa begitu ‘santai’ adalah anak anak yang biasa mudah tantrum jika diajak banyak pose, pindah pindah dari satu sudut ke sudut lain, apalagi harus gonta ganti konstum berkali kali disaat mereka harus memangkas jam tidur siangnya, tak begitu dengan anak anak pasangan muda ini. Mereka ‘sangat ikut aturan’ selalu happy dengan bayaran es krim dan bebas berlari lari. Waahh.. kata sang Umi, kuncinya adalah jangan biarkan mereka berteman dengan handphone dalam batas berlebih. Maka mereka akan lebih mudah diajak bekerja sama dengan orangtuanya 👍

Bekerja dalam bidang jasa memang punya kisah sendiri. Bertemu para klien yg lebih banyak bersifat personal mengajarkan banyak hal khususnya buatku yg memang masih baru sekali. Biasanya aku hanya berhubungan via virtual dengan para customer ataupun dulu sekali pernah mengajar kelas rendah yg tentunya lebih banyak berurusan dengan anak anaknya saja. Asyik juga menjalin hubungan personal begini. Saling bertukar kisah, bahkan tak jarang berlanjut kerja sama dari satu keluarga kecil ke keluarga besarnya. MasyaaAlloh, salah satu buah silaturahim memang memperluas rezeki ❤️

Semoga kami senantiasa dipertemukan dengan klien klien menyenangkan dan friendly. Ajaib, walau raga lelah namun tak dengan hati. Walau menempuh jarak yang tak sedikit namun pulang dengan wajah berseri. Walau bermandi peluh keringat dan hujan gerimis namun terasa berkah Alloh membersamai.

Semoga Alloh berkahi keluarga keluarga yg berjuang di jalanNya. Dengan cara mereka masing masing, mewarnai lingkungannya, dengan niat kebaikan dan sejumlah harapan terutama untuk anak anak dan masa depan. Aaamiiinn ❤️

Terima kasih untuk kerjasamanya wahai semua klien terbaik kami. Semoga Alloh berikan kesehatan dan lancarkan rezeki keluarga dengan limpahan rezeki yg halal thoyyib dan barokah. Aaamiinn 🙏


Abdassah Studio
IG abdassah.studio

FB Abdassah Studio [Multimedia]

Wa.me/6285719356036 (Ichad)

Posted in Uncategorized

Akak-ku Guru Hebat-ku

Akak sabar banget megangin sepeda adek bolak balik sepanjang lapangan

Berawal dari keluhan Shofia beberapa bulan belakangan. 2 pasang roda kecil di sepeda membuat berat kayuhan kakinya. Ia minta supaya roda kecilnya dilepas saja. Tapi dalam posisi, Shofia belum bisa sepeda roda 2.

Usia Shofia sudah memasuki tahun keempatnya di dunia. Sudah daftar TK A juga untuk tahun ini. Saat diwawancara oleh salah satu gurunya, beliau bertanya apakah Shofia sudah bisa roda 2 atau belum. Bukan sebuah keharusan. Hanya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan motorik kasar Shofia diusianya saat ini. Belum bisa tentu saja. Ditambah, Shofia sepertinya tidak terlalu tertarik dengan main sepeda 😅

Kemudian, ada hal mengejutkan yang baru kami ketahui saat wawancara tersebut. Saat gurunya menanyakan bagaimana proses kelahiran Shofia. Apakah normal atau sesar. Kami berdua bingung. Apakah proses kelahiran ini ada hubungannya dengan proses belajar Shofia nanti?

Menurut penjelasan beliau, ternyata untuk beberapa kasus, mungkin juga bukan kebanyakan, anak-anak sesar memiliki daya juang lebih rendah ketimbang anak lahir normal. Bukan berarti mereka tak bisa atau tak mau berjuang. Tetapi mereka lebih cepat menyerah. Tetapi kita sebagai support system dalam hidupnya wajib menyokong dan terus menyuntikan semangat. Ia akan kembali semangat setelah melihat keasyikan dari kegiatan tersebut. Butuh proses dan kesabaran lebih dalam mendampinginya. sekalipun jangan pernah mematahkan semangatnya.

Dan saat dicocokkan dengan beberapa kasus Shofia dalam proses belajar ataupun pemecahan masalah, memang tak segreget Akaknya yg lahir normal. Shofia lebih cepat menangis atau bilang, “udah ah, bosen..” jika ia mengerjakan sesuatu yg kurang diminati. Sedang Akaknya, tipe yang penasaran dan tidak mau kalah.

Sama-sama dalam proses belajar sepeda. Kami sama sekali tak mengajari Akak. Hanya karena teman-temannya kebanyakan sudah bisa, maka Akak termotivasi untuk bisa juga. Dan terbukti, Akak sdh menghabiskan setidaknya 3 sepeda selama kurun waktu 6 tahun terakhir 😅

Dan untuk pembuktiannya, seperti menyambut keluhan Shofia akan keinginannya untuk lepas roda kecil, maka dimulailah misi belajar sepeda ini. Kami ingin memastikan bagaimana Shofia mampu melewati tahapan yang cukup sulit ini. Tetapi tetap dengan pijakan dan dukungan penuh agar Shofia tetap semangat melakukannya.

MasyaaAlloh tabarakalloh.. dibawah bimbingan Akaknya, Shofia mulai bisa mengayuh sepeda roda 2

Mulai dari belajar keseimbangan. Kayuh sedikit demi sedikit dengan satu kaki. Akaknya menemani sambil bawa sepeda juga. Mengajarkan cara mengayuh sedikit-sedikit agar tetap seimbang. Shofia mengikuti dengan semangat awalnya. Apalagi jika jarak kayuhnya sudah semakin bertambah. Walau masih dengan satu kaki. Walau masih harus rubuh kanan kiri. Ditambah teriakan semangat dari kami, Shofia terus berjuang. Hingga akhirnya, Ia minta istirahat. Dilanjutkan dengan obrolan kesana kesini. Belajar sepedanya tak dilanjutkan lagi. Dengan alasan capek dan bosan. Dan kemudia pending belajar berhari-hari. Akaknya yang paling semangat mengajaknya untuk kembali belajar. Tapi tak selalu berhasil mengajak Shofia untuk mau mengulang belajar mengayuh sepeda.

Hingga akhirnya sore ini, sejak mungkin hampir sebulan yang lalu (atau lebih jangan-jangan) Shofia untuk pertama kalinya bisa mengayuh sepeda sepanjang lapangan dengan dipegangin Akak kursi belakangnya sebentar. Awalnya agak sering miring-miring tapi lama-lama Shofia paham bagaimana menjaga keseimbang stang sepeda supaya tidak mudah miring. Yang tadinya Akak megangin hampir setengah lapangan, berkurang jadi hanya 2 langkah saja. Dan Shofia mampu mengayuh sepeda roda 2 nya dengan baik.

Alhamdulillah.. buah perjuangan, kesabaran, dan saling dukung, Shofia sampai di titik ini. Belum sempurna tapi akan semakin baik kedepannya. Dengan Akak yang telaten mendampingi dan terus-terusan menyemangati. Walau Shofia masih suka bilang bosen belajar sepeda atau banyakan istirahatnya daripada belajarnya, tapi kami yakin sebentar lagi Shofia mampu mengejar Akaknya. Walau Akak seorang yg moody, tapi entah kenapa setiap hal yang diajari Akak kepada Shofia, jauh lebih cepat diserap ketimbang yang diajarkan bundanya 😅

Bismillah…

MasyaaAlloh tabarakalloh ❤️

Semoga sebentar lagi misi ini berhasil. Bertambah satu lagi kemampuan Shofia. Semoga bermanfaat dan barokah untuk kehidupan Shofia selanjutnya. Aamiinn 😘

Thx for reading 🤗

Jya mata ne~

Posted in Uncategorized

Nyicip Anime-an Lagi. Berbagi Tips Tipis Mengenalkan Anime Pada Anak :)

Harataku Saibou (Cells at Work) source : google image

Setelah berstatus mamak-mamak, apalagi berbuntut 2, me time adalah harta karun yang bisa didapat menjelang tengah malam saja. Itupun kalo mata masih mau diajak melek. Kalo badan masih kuat diajak duduk. Wajah pun masih berusaha terlihat seger dan bersinar akibat pantulan layar ponsel dalam kamar yang sudah redup lampunya. Heheheh~~~

Dari zaman berstatus anak sekolahan, daku emang suka banget sama nonton. Terutama film-film asal negeri sakura. Baik J-drama maupun animenya. Hampir addict malah. Pelarian sempurna dari suntuknya ngerjain tugas sekolah dan skripsi saat di bangku kuliah. Selain itu, daku jg seneng baca manga (komik Jepang). Baik yg buku maupun virtual (manga scan). Waahh.. emang zaman itu, kebanyakan me time aku tuh. Padahal sekali lagi, itu bentuk sebuah pelarian -_-

Me time jadi mamak-mamak sekarang, tetep suka nonton. Cuma nontonnya lebih ke K-drama. Hahhaha… suseeeyyyyh nyari J-drama ber-sub-Indo. Pusing kepala emak diajak nonton Jdrama ber-Eng-sub. Udah seharian kepala nyut-nyutan urusan domestik ditambah PJJ akak. Butuh pemikiran yang gampang dicerna aja gituh biar bisa bobok nyaman. Nah, K-drama melimpah ruah tuh link streaming dan downloadnya. Makanya mau gak mau bergeserlah tontonan daku.

Ada yang tau ‘Shinbi House’? Yang tayang di Net TV siang-siang? Lupa-lah tepatnya jam berapa. Si Akak lagi seneng film animasi asal Korea itu. Kayaknya Akak lagi seneng anime-anime serupa itu. Mungkin karena usianya jg sudah 9 tahunan. Gak bisa lagi diajakin nonton Shofia the First, Upin Ipin, Paw Patrol, apalagi Robocal Poli, dan sejenisnya. Ketemu film sejenis Shinbi House jadi exited banget. Kalo daku liat-liat kok konsep ceritanya mirip-mirip sama Cardcaptor Sakura (CCS). Kalo pada tau anime ini, berarti kita seumuran. hahhahaha~~ Mamak Rin ini sampe jatuh hati sejatuh-jatuhnya sama Li Syaoran XD

Emak pun gregetan pengen ngenalin CCS juga ke Akak. Browsing di Youtube, ajakin Akak nonton dan beneran doi tertarik. Kenapa emaknya jadi yang semangat? Karena ini hobi lama emak. Karena Akak udah suntuk banget juga sama PJJ. Karena berefek juga jadi gampang badmood dan ujung-ujungnya berantem sama adeknya. Makanya, daku mencoba cari hiburan lain. Berharap Akak bisa kembali good mood dan tidak menularkan aura negatif kemana-mana.

Mulailah daku browsing juga anime-anime apa aja yang aman ditonton sama anak usia 9 tahunan. Tentunya tetep dengan alur yang bisa doi pahami. Nontonpun sama daku tentunya. Supaya tetap pada jalur dan rulesnya. Gak melenceng kemana-mana dan gak melewati batas jamnya. Tentunya juga setelah semua tugas dikerjakan dan dikumpulkan ke gurunya.

Dari 43 judul anime hasil browsingku, dari yang aku kenal sampe gak kenal sama sekali, dari yang tahunnya jebot sampe tahun terdekat dengan 2021, akhirnya dapatlah satu judul yang benar-benar baru aku baca saat ini. ‘Hataraku Saibou’ menceritakan tentang kinerja semua organ dalam tubuh manusia dengan sel darah merah dan sel darah putih sebagai tokoh utamanya. Waaaahhh.. kok ini ide ceritanya gak biasa yaaa?? Bener-bener menjelaskan semua kinerja dalam tubuh kita namun divisualkan dalam bentuk anime. genrenya pun action comedy. Seru bangeeeeeetttt!! Dan bersub-Indo. Mamaknya yang gembira!!! Bayangin kalo istilah medis gini dijelaskan dalam bahasa Inggris. Mumet kepala mamak. Hahhahah XD

Jadilah daku cicip satu episode dulu. Buat season 1 ini cuma ada 13 episode (masih ada season 2 dan black season kalo gak salah. Dan masih on going semua XD). Streaming bentar, tengah jalan, ternyata menarik banget ceritanya. Akhirnya daku donwload baru sampe episode 7. Bisa juga sih kalo mau download langsung 13 eps. Tapi demi menjaga rules yang sudah mamak buat, maka Akak jangan diajarin marathon nontonnya. Biarlah mamak aja yang begitu. Hahhaha XD

Biar gak spoiler-spoiler banget, daku gak akan jelasin banget-banget gimana alurnya. Sila browsing juga aja. Dan buat yang pengen download, bisa di SINI. Ada ratusan judul anime lainnya juga yang bisa distreaming atau download. Tapi sedihnya, berhubung daku sudah berpuluh tahun wisuda dari dunia per-anime-an, maka judul-judul yang disebutkan banyak yang gak kenal sama sekali. Hahhahaa… (ketawa meringis) Padahal dulu sulit banget buat bisa nontonin anime. Boro-boro buat download yang kudu ke warnet, seringannya main ke rumah temen yang memang punya akses anime semacam tak terbatas gitu. Dan daku cuma bisa ikutan nonton di rumahnya :p

Kalo sekarang, akses nonton di rumah berbekal wifi rumah, laptop, website anime yang melimpah ruah, kalo mamaknya gak pasang aturan ketat, Akak bisa out of control nih. Makanya sejak awal dikenalkan, daku yang atur semua. Mulai dari judul animenya, jam nontonnya, dan nonton pun harus sama emaknya. Mudah-mudahan bisa mengembalikan good moodnya sambil tetap berada dalam jalurnya.

Semoga blog ini bisa membantu emak-emak lain yang punya kegelisahan sama denganku. Semoga tips-tips tipis-tipis ini juga bisa berguna bagi mamak-mamak semua. Terima kasih sudah membaca jurnal harian mamak Rin Shofia yang nulisnya banyakan mandegnya :p

Semoga tetap rajin mampir ya ❤

jya mata~~

(backsound : True Beauty OST Playlist)

Posted in Uncategorized

Covid 19, Home Learning, Dampak Positifnya bagi Bumi dan Bersabarlah, My Dear Rinchan….

Moms, Sekarang Ada Cerita Anak tentang Virus Corona! - kumparan.com

pic source : google image

 

“Akak kangen sekolaaaaahhh.. enakan sekolaaahh… tugasnya melulu… nulis melulu…. kenapa sih harus ada coronaa??!!”

Dan keluhan lain sejenisnya disampaikan hampir setiap hari oleh gadis 8.5 tahunku. Rinchan, memang sangat suka sekolah. Bahkan waktu TK, ia yang sedang demam saat itu, setelah minum obat dan demamnya tak lama turun, langsung minta berangkat sekolah. Padahal KBM mungkin sudah berjalan setengah hari.

Dan sejak Corona virus bertandang ke negara ini, semenjak diberlakukan home learning dan work from home, kami dipaksa untuk menghabiskan banyak waktu di rumah. Membatasi segala kegiatan yang biasa banyak dilakukan di luar. Termasuk kegiatan sekolah Rinchan.

Mulai dari semangat karena tiba-tiba dinyatakan libur sementara, tapi dibekali tugas setiap hari. Sampai akhirnya akak mulai muak, nangis, marah-marah, mengeluh, dan terjangkitlah balada rindu sekolah, rindu teman-teman, rindu guru-gurunya. Kalo soal bundanya ngomel-ngomel, mungkin akak sudah kenyang dan terbiasa, tapi kalo harus mengerjakan tugas bertumpuk apalagi model tugas yang harus menulis banyak, kambuhlah badmoodnya. Mirip anak gak dibolehin main ujan-ujanan lah 😀

Hampir tiap hari juga bundanya ini curhat ke gurunya. Berharap saling memotivasi baik sang guru maupun bundanya. Berharap setelah curhat, kami sama sama tercharge kembali. Agar bisa melewati hari dengan bahagia kembali. Dan saran utama yang didapat dari sang guru tetaplah, “biarkan Rin mengerjakan senyamannya, Bun. Tak perlu dipaksa…”

Tipe anak visual seperti Rin, mungkin lebih senang ditugaskan membuat komik ketimbang menulis, apalagi yang sifanya menyalin. Baginya tidak ada daya kreasi dan entertain yang tercipta di dalamnya. Beda dengan tugas menggambar. Beda dengan tugas meresume video yang habis ditontonnya. Walau mungkin akan ditemukan banyak tulisan, tapi model anak visual yang memang lebih suka gambar, melihat, menonton, akan lebih merespon positif.

Bukan cuma anaknya yang pundung ‘terlalu lama’ dikurung dalam rumah. Bundanya pun demikian. Setelah memang berhari-hari sebelumnya sudah di rumah terus, ditambah saat ini harus mengerjakan to do list tambahan, menjadi ‘pendamping’ anak mengerjakan tugasnya. Menghadapi mereka dengan beraneka rupa moodnya yang swing… swing… menyamai mood para ibu hamil.

Duluuuuuu para IRT ini mungkin terhibur hanya dengan shopping ke Superindo. Belanja bahan makanan di pasar atau sekedar ke mall sesekali numpang makan hokben, hiihihi.. tapi saat ini kami harus patuh pada anjuran demi menyudahi wabah pandemik ini. Untuk seorang yang introvert mungkin bukan jadi pasal yang memberatkan. Beda dengan kami para ekstrovert yang biasa ‘melanglang’ sana sini.

Image may contain: Kumala Shary P, smiling, food

numpang ngelaba di superindo 😀

Yaa.. kami menyelamatkan bumi hanya dengan ‘rebahan’. Cuma diminta #dirumahaja #stayathome. Produktiflah dari rumah. Rajin eksperimen di dapur. Rajin baca-baca buku yang tadinya cuma duduk manis dalem lemari. Rajin membuat prakarya bareng anak anak. Kali-kali kemampuan yang diasah tak sengaja ini bisa jadi ladang bisnis di kemudian hari. Who knows kaaannn??? (talk to my self inih :p)

Pikirkan juga bagaimana mereka yang sangat amat tidak bisa berdiam di rumah karena panggilan tugas baik karena terikat sumpah pada profesi ataupun sumpah kepada Alloh untuk menafkahi keluarga. Pikirkan bagimaan mereka harus bertarung face to face dengan si Covid19 yang wujudnya saja tak tampak dengan kasat mata. Semoga Alloh lindungi mereka dan keluarganya. Semoga semakin banyak masyarakat yang memnatu mereka. Aaamiiinnn…

Banyak Negara Lockdown, Virus Corona Bikin Bumi Lebih Bersih ...

pic source : google image

Berdasarkan gambar di atas, wajah bumi di satu sisinya, terlihat lebih bersih. belum sisi=sisi yang lain. Bumi yang sedang istirahat ini, menampilkan wajahnya yang semakin berseri. Yaa.. tak pernah ada yang sia-sia dari ciptaan Alloh termasuk maksud dari penciptaan si virus ini. Manusia yang sudah dituliskan sebagai makhluk perusak bumi. Yang entah dengan cara bagaimana diminta untuk memelihara bumi malah berbuat sebaliknya. Maka dengan kuasa Alloh, menurunkan pasukannya yang lain untuk menyelamatkan bumi walau dengan konsekwensi yang amat perih.

Mari renungkan apa dampak positifnya. Manusia jadi lebih aware dengan kebersihan dan kesehatan. Manusia jadi lebih peduli dengan hidup saling berbagi. Manusia jadi lebih dekat dengan Rabbnya tentu saja. Kalo bukan Alloh yang membuat ini semua, siapa lagi??

Perih memang. Teramat sakit memang. Tapi kita dilatih untuk belajar bersyukur dan bersabar. Khususnya aku, yang masih terus berusaha dengan tertatih dalam memperbaiki kesalahan-kesalahn diri ini. Alloh hanya menurunkan salah satu pasukan terbaiknya untuk melindungi ciptaannya. Untuk kehidupan makhlukNya menjadi lebih baik di kemudian hari. Memberikan tanda-tanda kekuasaanNya. Mengingatkan bahwa inilah yang telah Dia takdirkan jauh sebelum bumi ini ada. Maukah kita merenungkannya?? Maukah kita memohon ampun kepadaNya??

Semoga tulisan ini bisa diambil hikmah di dalamnya. Terima kasih ^-^

*curhatan emak rin di sela nyuci*

Sabtu, 04 April 2020

———————————————————

Kunjungi kami :

web  (www.abdassahstudio.com)

IG (abdassah.studio)

 

 

 

Posted in Uncategorized

Bersabar Sedikit Lagi

Mulainya kapan yaa tepatnya, kelelahan hati dan fisik ini kok seperti bertumpuk tumpuk. Seiring dengan anak anak bertambah usia, bertambah akal, kepintaran, dan lakon yang membuat kalimatku terucap terdengar kurang manis pada mereka.

Aku sadar ini salah besar. Fatal. Tak jarang tetiba menangis sendiri mengingat ucapanku pada 2 gadisku ini. Alih alih Berharap sang kakak lebih dewasa sesuai usianya, agar bisa menjadi setidaknya contoh yang baik bagi adiknya. Tapi yang aku rasakan malah kebalikannya. Sang kakak seolah mengikuti ketidakbisaan anak 3 tahun dan selalu ingin ditolong.

Aku sadar betul pasti ini salahku. Salah cara mendidikku. Salah cara bicaraku. Salah cara menanggapi setiap kalimat mereka. Salahku yang kurang bisa bersabar. Salahku yang kurang bisa berdamai dengan keadaan.

Berdalih kelelahan, berdalih butuh me time. Mungkin disatu sisi memang aku butuh bertemu dengan duniaku yang dulu. Tapi di sisi lain, aku belum bisa berbuat jauh karena masih terbentur ini dan itu.

Bukan aku saja yang merasa seperti ini. Banyak ibu ibu serupa yang mengalami kelelahan dan kerinduan masa aktif dirinya dulu. Mungkin memang aku kurang bersyukur, kurang bersabar. Setiap saat memohon dua hal itu pada Alloh. Karena aku tak bisa apa apa tanpa Alloh yang membantu.

Aku takut satu dari sekian banyak kalimat negatifku yang entah kenapa jadi mudah terucap, menjadi doa karena terus saja diulang. Na’udzubillah.. 😭

Berdosa sanagat diri ini pada 2 gadisku. Aku memaksa mereka mengerti kondisiku disaat mungkin memang usia mereka belum sanggup memahami kondisi orangtuanya. Sedang aku sendiri egois dengan merasa sudah memahami setiap sedih dan bahagia mereka.

Darimana mereka belajar pertama kali jika tidak dari orangtuanya. Dan pelajaran hidup ini sempurna diterima jika disampaikan dengan ikhlas dan sepenuh hati. Bila disampaikan dengan hati maka akan sampai ke hati. Baik itu yang baik atau yamg buruk sekalipun. Dan aku sadar itu.. tapi.. lagi lagi keegoisan ini yang merajai hati 😭

Bersabarlah wahai diri ini..

Sebentar lagi…

Ingat2 saat dulu dalam masa menanti kehadiran mereka..

Bayangkan bagaimana hancurnya hatimu saat mereka sakit dan lemah tak berdaya..

Bukankah jauh lebih baik jika mereka sehat, aktif, dan ceria???

Kau mungkin mengomel sepanjang hari, tapi mereka tak akan sanggup membencimu. Kamu tetap sosok terbaik, terlembut, tersayang, dan terhebat di mata mereka. Tapi kamu tak bisa berpikir yang sama dengan mereka, disitu letak kesalahanmu.

Kamu akan menua..

Kamu akan sangat membutuhkan mereka di hari tuamu..

Jangan sampai mereka merasakan kelelahan yang sama saat harus mengurusmu di usia senja..

Mereka pengingat yang baik..

Maafkan diri ini ya Alloh..

Maafkan makhluk egois dan sombong ini..

Maafkan ibu yang tak bisa bersabar dan kurang syukur ini..

Jangan pernah kabulkan kalimat negatifku pada mereka..

Kabulkan semua doa tulusku untuk mereka..

Semoga esok dan esok dan esoknya lagi aku bisa jadi ibu yang lebih sabar dan menerima segala kondisi.

Menyadari bahwa anak anak adalah milik Alloh yang dititipkan padamu untuk dijaga, dirawat, disayangi. Bukan sebaliknya..

Sun, March 8th 2020